Sabtu, 28 Desember 2013

Menyambut Tahun Gemuk Politik 2014

Sebentar lagi kita akan masuk pada Tahun 2014 dalam perhitungan Masehi.  Tahun 2013 akan kita lewati dengan segala kenangan dan peristiwa baik yang indah dan berprestasi maupun yang membuat hati sedih dan terluka.  Capaian pertumbuhan ekonomi sekitar 6 % adalah catatan prestasi pemerintah SBY dipenghujung masa jabatannya.  Namun demikian, hendaknya siapapun yang berkontribusi dalam pencapaian ini, baik pemerintah maupun aparat keamanan, jangan lupa peran serta masyarakatlah yang paling besar dalam hal ini.  Kondisi masyarakat yang kondusiflah yang berperan membantu susksesnya program-program pemerintah.  Karenanya stabilitas poitik adalah harga mati yang tak dapat ditawar kalau kita berkehendak mensejahterakan rakyat dan membangun Indonesia Raya yang kita cintai.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Berkurban dan Kisruh Politik (Korupsi)

Apa hubungannya judul diatas, antara berkurban dan kisruh politik dalam hal ini korupsi?  Saya hanya ingin menggambarkan bahwa dua-duanya suatu perbuatan yang berdampak langsung kepada rakyat (umat), namun berbeda landasan pemikirannya.

Berkurban adalah mengorbankan sebagian dari harta kita yang telah kita kumpulkan selama lebih kurang satu tahun untuk dibagikan kepada yang berhak terutama fakir miskin.  Pesan sosialnya jelas yaitu yang kaya membantu yang fakir dan miskin. Secara agama, berkurban adalah wujud ketaatan kita kepada perintah Sang Khaliq sebagaimana Allah swt juga memerintahkan untuk berpuasa.  Totally Iman. Yang berbeda adalah kalau berkurban hanya untuk yang sudah mampu, sedangkan berpuasa perintah untuk seluruh orang-orang yang beriman.

Rabu, 07 Agustus 2013

Hari Raya Iedul Fitri: Pesan Taqwa dari Umat Islam kepada Dunia

Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal tahun 1434 H ini akan jatuh pada tanggal 8 Agustus 2013.  Sebelum Hari Raya, umat islam diseluruh dunia melaksanakan perintah Tuhan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, dengan tidak makan dan minum, tidak melakukan hubungan sex di siang hari dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa. Diharapkan setelah berpuasa, kaum muslimin akan mendapatkan kebersihan jiwa dan kembali ke fitrah sebagai manusia yang bersih dari dosa seperti bayi yang baru lahir dan sebagai hamba Allah berkomitmen melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi laranganNya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di dunia selanjutnya.

Sabtu, 20 Juli 2013

Ramadhan dan Dinamika Islam di Indonesia

Seperti tahun-tahun sebelumnya, awal Ramadhan di Indonesia menyisakan pekerjaan rumah buat para pemimpin muslim.  Perbedaan penentuan tanggal 1 Ramadhan selalu menjadi komoditas politik buat para analis pergerakan islam di Indonesia.  Antara kubu Hisab yang dimotori oleh Muhammadiyah dan kubu terlihatnya Hilal yang di dukung oleh Nadhatul Ulama.  Bagi kalangan muslim Indonesia sendiri yang tidak terlalu peduli dengan penentuan awal Ramadhan, perbedaan pendapat tersebut adalah suatu rahmat, bukan suatu perbedaan keyakinan yang berbenturan satu sama lain. Hal ini hanyalah perbedaan penafsiran ilmu dunia yang dilengkapi dengan teknologi, bukan suatu hal yang menyenggol syariat islam itu sendiri.

Kamis, 23 Mei 2013

Menanti Aliansi Super Power Baru : Jerman & Cina

Runtuhnya Uni Soviet menjelang dekade 1990-an menciptakan kevakuman dalam Balance of Power Politik Dunia.  Amerika Serikat melenggang menjadi satu-satunya super power.  Namun, sebagaimana siklus kehidupan, tidak ada satupun super power dunia yang langgeng.  Ambil contoh, Kekaisaran Roma, Kekaisaran Persia, Kesultanan Ustmani, Turki Ottoman, Kekaisaran Cina, Kerajaan Prusia dsb.  Kerajaan-kerajaan tersebut mendunia pada masanya dan mati sesuai dengan hukum alam ketika negara memasuki usia tua.

Jumat, 03 Mei 2013

Membangun Poros Jakarta-Beijing Babak Kedua

Akhir tragis hubungan Indonesia - Cina pada dekade 1960-an pasca peristiwa tanggal 30 September 1965 sampai era tumbangnya pemerintahan Orde Baru (Soeharto) Mei 1998 menjadi penghambat transfer teknologi dan keuangan dari Negeri Tirai Bambu tersebut ke Nusantara (Indonesia - modern).

Saat itu, Soeharto selalu melihat ke Barat, entah karena Soeharto memerlukan Barat untuk menstabilkan kondisi ekonomi Indonesia yang miskin dan carut marut  atau Negara-negara Barat terutama Amerika yang memainkan kartu Soeharto untuk mencegah dominasi pasar Rusia dan Cina di Indonesia.